PERANCANGAN SET PERHIASAN GENDERLESS MENGGUNAKAN STUDI KASUS GENDER BISSU
Main Article Content
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mencapai dua hal, yaitu meningkatkan pengetahuan masyarakat Indonesia mengenai komunitas LGBT dengan harapan dapat mengurangi diskriminasi terhadap komunitas tersebut dan melestarikan keberagaman gender dalam budaya Indonesia, khususnya dalam suku Bugis. Melalui penelitian ini penulis akan mengeksplorasi konsep gender dalam budaya Bugis, yang memiliki lima kategori gender, dan akan fokus kepada gender Bissu yang merepresentasikan peran penting dalam tradisi dan spiritualitas suku Bugis.
Penulis menggunakan pendekatan kualitatif untuk penelitian tersebut, dengan wawancara mendalam dengan seseorang yang ahli dalam bidang pengetahuan seputar gender, serta dengan individu-individu dari komunitas LGBT di Indonesia. Dalam penelitian ini, penulis juga akan melibatkan analisis visual yang ada dalam budaya Bugis, khususnya dalam konteks perhiasan tradisional sebagai dasar desain visual yang akan digunakan dalam perancangan perhiasan.
Dari penelitian ini penulis akan merancang sebuah set perhiasan berupa kalung, gelang, dan ear cuff yang didesain sebagai sarana ekspresi diri untuk beragam gender, dengan fokus pada gender Bissu sebagai simbol harmonisasi gender. Perhiasan ini tidak hanya berfungsi sebagai objek seni, tetapi juga sebagai media edukasi untuk memperkenalkan konsep gender non-biner dalam konteks budaya tradisional Indonesia, serta memperkuat nilai-nilai keberagaman dan inklusivitas
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
References
DAFTAR PUSTAKA
Dai, H., Xia, T., & Zhao, S. (t.t.). Unisex Style: The History, Current Situation and Future. 664.
Depdikbud, M., & Diperdagangkan, T. (t.t.). BUSANA ADAT PADA MASYARAKAT.
Fatmawati, F., & Kurnia, H. (2024). Mengenal Kebudayaan Suku Bugis. 1(2).
Monro, S. (2019). Non-binary and genderqueer: An overview of the field. International Journal of Transgenderism, 20(2–3), 126–131. https://doi.org/10.1080/15532739.2018.1538841
Nurohim, S. (2018). IDENTITAS DAN PERAN GENDER PADA MASYARAKAT SUKU BUGIS. SOSIETAS, 8(1). https://doi.org/10.17509/sosietas.v8i1.12499
Pambudi, N. S. H., Haldani, A., & Adhitama, G. P. (2019). Studi Preferensi Masyarakat Jakarta Terhadap Genderless Fashion. JURNAL RUPA, 4(1), 54. https://doi.org/10.25124/rupa.v4i1.2249
Prasetyo, T. W. (2022). Senjakala Bissu Bugis, Akibat Purifikasi Agama dan Komersialisasi? National Geographic Indonesia. https://nationalgeographic.grid.id/read/133214103/senjakala-bissu-bugis-akibat-purifikasi-agama-dan-komersialisasi?page=all
Sari, W. P. E. (2021). Sulitnya Orang Indonesia Menerima Kaum LGBT. Aradha: Journal of Divinity, Peace and Conflict Studies, 1(3), 259. https://doi.org/10.21460/aradha.2021.13.725
Su, P. (2024). Analyse the Connection between Jewelry Design and Consumers. Journal of Education, Humanities and Social Sciences, 30, 111–116. https://doi.org/10.54097/5j122j64
Suliyati, T. (2018). Bissu: Keistimewaan Gender dalam Tradisi Bugis. Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi, 2(1), 52. https://doi.org/10.14710/endogami.2.1.52-61
Whittle, S. (2005). Gender Fucking or Fucking Gender? Dalam I. Morland & A. Willox (Ed.), Queer Theory (hlm. 115–129). Macmillan Education UK. https://doi.org/10.1007/978-0-230-21162-9_10

