PERANCANGAN PROYEK MUSEUM DAN SANGGAR TARI BALI DENGAN PENDEKATAN SENSE OF PLACE OLEH KONSULTAN LUH ADITYA ARCHITECT
Main Article Content
Abstract
Budaya merupakan faktor identitas negara yang menjadi panduan perilaku masyarakat untuk berkembang dan mewariskannya ke generasi selanjutnya. Semakin berkembangnya zaman, budaya Indonesia lambat laun memudar akibat masuknya budaya barat yang lebih modern dan kurangnya kesadaran masyarakat untuk mewariskan nilai – nilai budaya. Dalam ranah arsitektur, hal yang dapat dilakukan sebagai bentuk kontribusi pelestarian budaya, khususnya kepada generasi muda adalah dengan menerapkan nilai – nilai budaya ke dalam desain bangunan. Pendekatan konsep yang dapat dilakukan untuk menggabungkan budaya dan desain bangunan adalah dengan pendekatan sense of place. Oleh karena itu, terciptalah konsultan Luh Aditya Architect dengan pendekatan konsep sense of place budaya Tri Hita Karana-Tri Loka yang digabungkan dengan budaya daerah tempat proyek dibuat. Pendekatan ini memiliki maksud untuk melestarikan filosofi budaya (adat istiadat kebiasaan, makna budaya) ke dalam desain yang tak lepas dari terciptanya suasana harmonis dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan. Rancangan proyek yang akan menerapkan konsep sense of place budaya ini adalah museum dan sanggar tari Bali. Pembuatan desain bertujuan meningkatkan dan melestarikan budaya tari dan musik tradisional Bali kepada masyarakat lokal, khususnya generasi muda Indonesia, maupun mancanegara. Desain harus dapat menyampaikan budaya khas Bali namun tidak terkesan kuno dan monoton. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode kuantitatif dan kualitatif.
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
References
Abu, H. (2021). SANGGAR SENI LATIMOJONG SEBAGAI WADAH PEMBINAAN PENARI TARI PA’JAGA LILI DI KABUPATEN LUWU (Doctoral dissertation, UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR).
Ajim, N. (2018). Sanggar Tari, Wadah Penari Tradisional. https://www.mikirbae.com/2018/09/sanggar-tari-wadah-para-penari.html.
Astini, N. K. R. D. (2024). Konsep Tri Angga Sebagai Metode Dalam Penciptaan Karya Tari. Dance and Theatre Review, 7(2), 64-69.
Dharma Negara Alaya. https://www.dna.denpasarkota.go.id/.
Fauziah, A. N., & Kurniawati, W. (2013). Kajian Sebaran Ruang Aktifitas Berdasarkan Sense Of Place (Rasa Terhadap Tempat) Pengguna Di Pecinan Semarang. Ruang, 1(1), 101-110.
Fauziyyah, F. (2023, 11 September). Kultur Sosial: Lunturnya Budaya Lokal pada Generasi Muda di Era Globalisasi. https://www.kompasiana.com/fatikhatul/64ff153ee1a167593f497dc2/kultur-sosial-lunturnya-budaya-lokal-pada-generasi-muda-di-era-globalisasi.
Iswara, G. A. (2013). Arsitektur Bali. Jurusan Teknik Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana.
Kusumowidagdo, A., & Wardhani, D. K. (2019). An analysis of sense of place in Ampel Corridor Surabaya: a study about physical and social factors in a historic commercial area. Penerbit Universitas Ciputra.
Lyana, J. (2022, 03 Agustus). Mengenal Museum Sonobudoyo, Museum Kebanggaan Yogyakarta. https://museumnusantara.com/museum-sonobudoyo/.
Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. https://sonobudoyo.jogjaprov.go.id/en/layanan/petunjuk/denah-ruang.
Prabowo, A. H., & Wijayanto, P. (2022). Komparasi konsep Tri Hita Karana pada bangunan Pura Agung Jagat dan rumah tradisional Bali. In Prosiding Seminar Intelektual Muda (Vol. 4, No. 1, pp. 76-83).
Putri, V.K.M. (2022, 24 Maret). Pengertian Museum dan Jenisnya. https://www.kompas.com/skola/read/2022/03/24/090000769/pengertian-museum-dan-jenisnya.
Reforma, A. D., Purwani, O., & Iswati, T. Y. (2022). Pengembangan Museum Karst Sebagai Sentra Pariwisata Di Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri. Deepublish.
Suputra, I. G. N. A., Hadiansyah, M. N., & Nabila, G. P. (2023). REDESAIN INTERIOR GEDUNG DHARMA NEGARA ALAYA (DNA) DENPASAR BERDASARKAN ESENSI DESAIN NEO VERNAKULAR. eProceedings of Art & Design, 10(3).
Wardani, L. K. (2007). Nilai Budaya Pada Interior Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Dimensi Interior, 5(1), 23-33.
Yogaswara, W. (2004). Bagaimana mendirikan sebuah museum. Jakarta: Direktorat Museum.

