PERANCANGAN SENSE OF PLACE PROYEK RUMAH KULINER TRADISIONAL MODERN KHAS PONOROGO
Main Article Content
Abstract
Dengan adanya riset analisa lingkungan bisnis yang mencakup Industry Forces, Market Forces, Key Trends, serta Macro Economic Forces, maka terdapatlah peluang dan permasalahan yang dihadapi dalam mendirikan usaha. Didirikannya usaha Rumah Kuliner Ponorogo dengan pendekatan sense of place merupakan bentuk dari jawaban permasalahan akan efisiensi dan kelayakan untuk mendapat produk serta fasilitas kuliner khas Ponorogo yang memadai. Hal ini juga tidak lepas dari bentuk solusi akan adanya pandemi yang berlangsung secara global. Tidak hanya menyediakan fasilitas untuk mendapatkan produk kuliner, usaha ini juga dilengkapi dengan penyediaan toko oleh-oleh yang menjual produk kerajinan lokal warga setempat untuk membantu UMKM warga. Proyek Rumah Kuliner Ponorogo merupakan sebuah proyek perancangan fasilitas kuliner yang menawarkan sebuah tempat dengan suasana tradisional yang dikombinasikan dengan suasana modern yang mengikuti tren, namun tetap memiliki ciri khas Ponorogo. Mengingat semakin berkembangnya usaha kuliner dengan suasana café yang modern, harapannya fasilitas kuliner ini dapat tetap mengikuti tren dengan menunjukkan suasana Ponorogo tersendiri yang melekat bagi pengunjungnya. Penerapan konsep dalam Rumah Kuliner Ponorogo terlihat pada tatanan masa bangunan yang diadaptasi dari rumah tradisional Jawa. Ciri khas Ponorogo sendiri terlihat pada ruang interior restoran, seperti adanya dinding mural dengan tokoh-tokoh dalam cerita tari reog, ornament dan dekorasi burung merak yang merupakan bagian dari ikon reog, serta penerapan material mentah seperti kayu, batu bata merah, dan acian pada pelingkup bangunan interior.
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
References
Arsitur. (2019, 07 Agustus). Sistem Pencahayaan Alami dan Buatan pada Bangunan.
https://www.arsitur.com/2015/10/sistem-pencahayaan-alamidanbuatan.html#:~:text=Sistem%20
pencahayaan%20dalam%20bangunan%20adalah,tersebut%20dapat%20melihat%20dengan%20
jelas.
Carmona, M., Heath, T., Tiesdell, S., & Oc, T. (2003). Public Places Urban Spaces: The Dimension of Urban Design. Oxford: Architectural Press.
Ching, Francis D.K. (1996). Ilustrasi Desain Interior. Erlangga. Jakarta.
Ching, Francis D.K. (2008). Arsitektur, Bentuk, Ruang, dan tatanan. Erlangga. Jakarta.
Cross, J. (2001). What is Sense of Place ? 12th Headwater Conference. Western State College.
Faradilla, C. (2010). Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat Lokal. Retrieved from http://repository.ub.ac.id/113019/1/051000374.pdf.
Fauziah, Fauziah, A. N., & Kurniawati, W. (2013). Kajian Sebaran Ruang Aktifitas Berdasarkan Sense Of Place (Rasa Terhadap Tempat) Pengguna Di Pecinan Semarang. Ruang, 1(1), 101-110.
Indrani, Hedy C, dan Tansanjaya, Felicia. (2011). OPTIMASI DESAIN AKUSTIK BANGUNAN KONSERVASI PADA RUANG SERBAGUNA SALLE FRANCE CCCL SURABAYA. DIMENSI INTERIOR, VOL. 9, NO. 1, JUNI 2011: 13-23. file:///C:/Users/Feti/Downloads/18479-Article%20Text21712-1-10-20120917.pdfplumb
Knez, Igor. 2005. Attachment and identity as related to a place and its perceived climate, dalam Journal of Environmental Psychology No. 25 Hlm. 207 218.
Kusumawardani, D. (2016). Landasan Konseptual Perencanaan dan Perancangan PUSAT KULINER DAN OLEH-OLEH DI BANTUL, D.I. YOGYAKARTA.
Kusumowidagdo, A. (2014). Visitor Perception on Food Court Servicescape the Study of Two Shopping Centre Food Courts in Indonesia. Global Journal of Business and Social Science Review, 2(3), 52-60.
Lynch, Kevin. 1990. City Sense and City Design. USA: Halliday Lithograph
McGwoan and Kurse. (2004). Interior Graphic Standard Student Edition. New Jersey: John Wiley & Sons.
Mirsa, Rinaldi. (2011). Elemen Tata Ruang .Kota. Yogyakarta. Graha Ilmu.
Mirsa, Rinaldi. (2019). Arsitektur Rumah Saudagar Batik: Simbol, Pola dan Fungsi Ruang. Yogyakarta. Teknosain. Najafi, Mina, Mustafa Kamal Bin Mohd Shariff. (2011). The Concept of Place and Sense of Place In. International Journal of Human and Social Sciences 6:3 2011.
Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor 11 Tahun
(2014). Standar Usaha Restoran. https://jdih.kemenparekraf.go.id/asset/data_puu/regulation_subject_1593601171_11_tahun_2014.pdf
Sahdieng. (2018). Apa itu Penghawaan Bangunan?https://sahdieng.blogspot.com/2018/02/apa-itu-penghawaanbangunan.html
Soekresno. (2000). Management Food and Beverage, service hotel. Jakarta. PT Gramedia Pustaka Umum.
Susilo. (2018). Model Tata Masa Bangunan Rumah Tradisional Ponorogo. Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia 7(1), 60-67.
Ujang, Nursidah. (2012). Place Attachment and Continuity of Urban Place Identity, dalamJurnalProcedia. Hlm. 156-157
Williams, Daniel R. & Carr, D. S. (1993). “The sociocultural meanings of outdoor recreation places,” in A. Ewert, D. Shaves & Magil (Eds), Culture, conflict, and communication in the wildlandurban interface (pp.209-219). Boulder, CO: Westview Press.
Yuksel, Atila et al. (2010). Destination attachment: Effect on customer satisfaction and cognitive, affective and conative loyalty, dalam Jurnal Tourism Management No. 31 Hlm. 274-284.
Yusoff, Y.M. et al. (2011). Sense of Community Through Neighborhood Center, dalamJurnalDesign + Built. Vol.4.

